Pagi ini aku terbawa hasratku berdiam di got tempat tikus-tikus jalanan berkumpul, sementara dikejauhan deruh ombak tak sabar ingin menelannya.
sawah bak telaga dijadikan tempat memancing sebagai pemuas kesenangannya, sementara dibelakangku kendaaan bermotor membuat kebisingan seakan membakar telingaku, sungguh merusak suasana pagi
awan tetap cerah seperti biasa dengan sebuah salam halus untuk para pengeluh pagi ini.
Ingatlah keluh tak merubah apapun.
keluhmu sama halnya ketika kau memancing ditempat yang bahkan kau sendiri sudah tau tempat itu memang tak berikan.
membodohi diri sendiri dan yang tersisa hanyalah penyesalan .
sungguh permainan akal tak semudah mengendalikan sepeda tua..
Maka buatlah sebuah mantra sebagai motivasi tak berujung.
Aku butuh begitu banyak pahlawan
aku butuh pahlawan yang dengan berani menjunjung ku dengan tinggi di saat orang-orang menganggapku rumput yang pantas di injak-injak.
Aku butuh pahlawan yang dengan berani membakar semangatku disaat aku terpuruk dan penuh keluh.
Aku butuh pahlawan yang dengan berani melantunkan namaku disaat orang lain enggan mendengarnya
Abu butuh pahlawan yang dengan berani menghilangkan ego ku disaat seluruh dunia tunduk terhadapnya.
Mendekatlah para pahlawan baruku, barangkali kau menjadi pahlawan tak terlupakan dalam hidupku, walau tak membuatmu jadi permata.
Katanya kejujuran memiliki kualitas sendiri pada pemikulnya.
Pasti semua manusia ingin menjadi bbudak setia pada kejujuran itu sendiri.
Maka ungkapkanlah secuil cinta dari hatimu, sungguh itu lebih baik dari pada kau ungkapkan segudang cinta dari bibirmu.
walau itu adalah bagian yang tersulit dan hanya dimengerti oleh orang yang sadar.
Sungguh aku suka segudang cinta dari bibirmu tapi bagiku lebih menarik secuil cinta dari hatimu.
Ingatlah rasa rakus adalah bagian sifat manusia.
Jika aku merasa cukup dengan cintamu aku akan tetap diam dengan menikmati secangkir kopi buatanmu.
Tapi jika tak aku merasa cukup, akulah yang akan berusaha menyajikan kopi untukmu sampai kau benar-benar menikmatinya.
Sampai pada akhirnya kita duduk bersama ditaman cinta menikmati secangkir kopi yang tak terlupakan.
Maka awalillah dengan kejujuran karna itu akan membuatku rakus dengan aromamu.
Aku masih sibuk memutihkan hitam itu sesaat setelah kau pergi.
Namun aku terlupa, hidup bukan hanya soal putih.
Pada cermin yang ku tatap tiap pagi, aku memohon.
Dengan bersenjata sombong ia menatapku kembali lalu dengan lancang bertanya tentang kehitamanku yang terlanjur tumpah.
Sungguh tatapan cermin itu menelanjangi segala keteledoranku, membuatkan aku tak bisa lagi untuk berselimut dengan kenyataan.
Namun nalarku sering berkeliaran sendiri dengan rasaku yang Ntah, lalu aku mendapati terlalu penuh kehitaman yang menyesakkan ruang hirupku.
Aku begitu ingin mengutuk ketidakwajaran itu, maka harus aku sebut apa sesal yang datang meracuni jasad serta jiwaku??
Dan kau, senyap-senyap memberiku salam pada hatiku tanpa satupun hingar teriakan dan tanpa secuilpun sentuhan.
Namun hidup adalah kenikmatan yang amat kunikmati...

0 komentar:
Posting Komentar